weltevreden di jakarta
Destinations

5 Kawasan Bersejarah di Jakarta : Cocok untuk Belajar Sejarah

Jakarta punya sejarah yang panjang sebagai ibukota sebuah Negara. Sejak zaman kolonial Belanda hingga menjadi kota yang memiliki Bandar Niaga yang penting, Jakarta tetap seistimewa dulu. Anda dapat menemukan bekas-bekas peninggalan Hindia Belanda, zaman Kemerdekaan hingga masa reformasi. Bahkan banyak aktivitas tetap hidup di beberapa peninggalan atau kawasan bersejarah di Ibukota Jakarta. Apa saja kawasan-kawasan tersebut?

  1. Mengenal Kota Tua: Pusat Pemerintahan Batavia Awal

wisata kota tua jakarta

Sumber : http://blog.reservasi.com/wisata-kota-tua-tetap-jadi-primadona-warga-jakarta/

Siapa yang tidak mengenal Kota Tua, Jakarta Barat? Anda dapat menjumpai banyak bangunan bernilai sejarah di kawasan ini misalnya saja Jembatan Merah, Pelabuhan Sunda Kelapa, Museum Sejarah Jakarta yang dulunya adalah Kantor Gubernur Jenderal VOC, Museum Bahari, Menara Syahbandar, dan Museum Wayang yang dulunya merupakan Gereja Lama Belanda.

Terlepas dari semua itu, sebenarnya nama Kota Tua itu sendiri merujuk pada sebuah bangunan gedung cagar budaya yang tetap dipertahankan hingga saat ini. Kawasan bersejarah di Jakarta ini Terletak di Kelurahan Pinangsia, Kecamatan Tamansari, gedung ini merupakan tempat yang sangat strategis kala itu. Sebelah utara ada Pelabuhan Sunda Kelapa dan Laut Jawa, sementara di sebelah timur ada Kali Ciliwung. Sebelah selatan ada Jalan Jembatan Batu dan sebelah barat dapat menjumpai Kali Krukut. Oleh karena lokasinya yang sangat tepat itulah maka Kota Tua seringkali menjadi perebutan kekuasaan dimulai dari Kerajaan Pajajaran, Kesultanan Banten, VOC hingga Jepang.

Dengan luas sekitar 1,3 kilometer, Kota Tua merupakan pusat perdagangan strategis di Asia. Wajar saja, jikalau Kota Tua dijadikan pusat pemerintahan Batavia awal oleh Hindia Belanda. Namun, karena adanya wabah pada tahun 1835 – 1870, maka ibukota pemerintahan Batavia pun dipindahkan ke Weltevreden di daerah Medan Merdeka.

Hadirnya Jepang untuk menggantikan Belanda pada tahun 1942 membuat Batavia berganti nama menjadi Jakarta. Kini, Kota Tua resmi menjadi situs warisan budaya yang wajib dipertahankan. Berbagai kegiatan diselenggarakan untuk tetap membuat kawasan ini lebih “hidup” bagi masyarakat luas. Misalnya saja pameran sejarah Jakarta, penghelatan untuk mengenang Sejarah-nya hingga pagelaran seni Lenong khas suku Betawi.

  1. Kampung Tugu

kawasan bersejarah kampung tugu jakarta

Sumber : https://malesbanget.com/2016/08/yuk-main-ke-kampung-tugu-lisbon-nya-jakarta/

Keberadaan kawasan ini sebenarnya sudah ada sejak abad ke-17, persis ketika benteng Jayakarta jatuh ke tangan VOC. Sejak saat itu, kawasan yang terletak di  Koja, Jakarta Utara tersebut dijadikan pemukiman tawanan perang yang dijadikan serdadu atau pekerja VOC oleh Hindia Belanda.

Di Kampung Tugu, mereka pun dijadikan budak oleh Belanda dan dipaksa untuk pindah kepercayaan seperti orang Belanda. Oleh karena itulah, Anda dapat menemukan sisa-sisa peninggalan bangunan ibadah seperti Gereja Tugu yang telah didirikan pada tahun 1747 dan masih ada hingga saat ini.

Gereja yang sudah berumur lebih dari dua setengah abad lamanya ini merupakan pemberian dari Tuan Tanah Cilincing untuk masyarakat Kristen di Tugu. Selain itu, dalam perkembangannya Kampung Tugu juga terkenal dengan musik keroncong-nya yang memiliki irama syahdu dank has sehingga kerap disponsori oleh orang-orang Belanda pada masa itu.

  1. Jatinegara: Kawasan Bersejarah yang Tak Lekang Waktu

kawasan bersejarah weltevreden

Sumber : http://www.doubletrackers.com/2016/04/11/jatinegara-dan-yang-tak-kasat-mata/

Meester Cornelis.

Ya! Itulah nama kawasan Jatinegara dulunya. Tepat pada tahun 1770-an nama ini merupakan nama Benteng Belanda Meester Cornelis, lima belas kilometer jauhnya dari Batavia. Fungsi benteng ini sendiri adalah untuk menjaga akses ke arah Bogor atau yang saat itu disebut sebagai Buitenzorg. Di dalam benteng sendiri terdapat menara, rumah perwira komandan barak prajurit, gudang penyimpanan hingga tempat tinggal bagi para pekerja benteng.

Kini benteng Meester Cornelis sudah tidak berbekas sama sekali. Namun, beberapa bangunan bersejarah lain di kawasan ini yang dapat ditemui dengan mudah misalnya Pasar Lama Jatinegara juga sering disebut Pasar Meester. Para kondektur bus jua biasanya berteriak “mester” dibanding Jatinegara.

Terlepas dengan sejarah dibalik penggantian nama Meester Cornelis menjadi Jatinegara pada zaman Jepang, kawasan ini tetap memelihara bangunan-bangunan bersejarah-nya tetap lestari hingga sekarang ini. Beberapa bangunan yang memiliki nilai historis di dalamnya yang mesti Anda ketahui adalah Stasiun Kereta Api Jatinegara, kelenteng, rumah langgam Cina, Gereja GBIP Koinonia, hingga SMP 14 Jatinegara.

Selain itu, Anda juga bisa melihat rumah berarsitektur khas colonial di seberang Stasiun Jatinegara yang tentunya juga memiliki nilai historis yang panjang. Rumah ini merupakan rumah Meester Cornelis sendiri yang sempat digunakan sebagai markas Komando Distrik Militer 0505 Jakarta Timur serta organisasi paramiliter Pemuda Panca Marga.

  1. Weltevreden: Pusat Pemerintahan Lintas Zaman

kawasan bersejarah weltevreden

Sumber : https://www.kompasiana.com/rakyatjelata/599b0419b7c38958e34496a2/menjelajah-weltevreden-bersama-backpacker-jakarta-bpj?page=all

Terbentuk sejak abad ke-17, Weltevreden bukanlah wilayah baru dalam peta Batavia saat itu. Bahkan bisa dikatakan Weltevreden merupakan sebuah wilayah yang terkenal oleh karena kawasannya seringkali dijadikan peristirahatan elite bagi para pembesar VOC. Oleh karena itulah, kawasan bersejarah di jakarta ini memiliki banyak bangunan mewah seperti vila-vila peristirahatan pemerintah kolonial.

Untuk menunjang perkembangan Weltevreden, pemerintah Belanda sampai melakukan gebrakan besar seperti membangun dua buah pasar besar yakni pasar Tanah Abang dan pasar Senen hingga melakukan penggalian Kali Lio yang menghubungkan Sungai Ciliwung dengan parit memanjang yang sejajar dengan De Grot Zuiderweg.

Tak hanya itu, Gubernur Jenderal Belanda juga membangun sebuah vila besar di tikungan Ciliwung yang dikemudian hari berganti nama menjadi Istana Weltevreden. Istana inilah yang pada tahun 1857 berubah fungsi menjadi Rumah Sakit Militer Kolonial atau Rumah Sakit Angkatan Darat Gatot Subroto.

Nah, bagi siapa saja yang menebak bahwa Weltevreden itu kini adalah kawasan Jakarta Pusat, maka Anda sudah menebak dengan benar. Yap! Status Weltevreden saat itu sama dengan Jakarta masa kini yakni sebagai pusat pemerintahan. Oleh karena itulah, Anda dapat menemui banyak bangunan di Jakarta Pusat yang memiliki nilai sejarah yang panjang menilik dari “kemewahan” dan posisi kawasan ini yang begitu penting.

Beberapa bangunan yang pastinya Anda kenal itu adalah Lapangan Banteng, Monumen Nasional, Gambir, dan Tanah Abang tentunya. Jangan lupakan juga beberapa bangunan yang dari dulu hingga sekarang masih mempertahankan bentuk aslinya. Misalnya saja Lembaga Eijkman, Gedung Kesenian Jakarta, Rumah Raden Saleh, hingga Museum Kebangkitan Nasional yang dulunya merupakan Gedung STOVIA.

  1. Blok M: Tempat Nongkrong Anak Gaul Tempo Doeloe

kawasan bersejarah blok m

Sumber : http://ulinulin.com/posts/blok-m-area-from-a-cluster-area-to-a-shopping-center

Nilai historis Blok M bisa jadi lebih pendek oleh karena kawasannya yang masih lebih muda dibandingkan kawasan sebelumnya. Namun, kawasan yang dulu sempat disiapkan Belanda sebagai Kebayoran Ilir itu memiliki nilai tersendiri di hati anak-anak gaul tahun ’80-‘90an.

Saking terkenalnya Blok M, kawasan ini muncul dalam banyak lirik music serta novel, lho. Sebut saja novel Lupus, Catatan Si Boy, Olga, lagu-lagu tahun ’80-‘90an hingga istilah “Jalan Jalan Sore” yang sangat populer kala itu.

Bila menilik sejarah awal Blok M, maka Anda harus mengetahui bahwa kawasan ini sebenarnya merupakan rancangan Belanda yang ingin membuat kawasan pemukiman dengan konsep taman. Oleh karena itu, pemerintah Belanda pun membangun Blok A hingga Blok S. Namun ternyata yang paling terkenal hingga saat ini hanyalah Blok M.

Sekarang, peran Blok M sebagai tempat nongkrong anak muda mungkin telah tergantikan oleh mall-mall, kafe terkenal atau juga bioskop-bioskop. Namun, pembangunan jalur LRT, MRT, jalan layang, hingga pengaturan wilayah lebih rapi dapat membuat Blok M akan kembali digemari oleh kawula muda zaman now.

Demikianlah lima kawasan bersejarah di Jakarta yang masih tetap lestari hingga sekarang ini. Tempat-tempat ini perlu dibudidayakan dan dijaga sampai kapanpun agar siapapun yang lahir dan besar di Jakarta pada masa sekarang tahu bahwa ibukota memiliki sejarah yang panjang di belakangnya. Nilai-nilai historis yang melekat pada kotanya seyogyanya mesti terkenang sampai kapanpun.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
Facebook
Google+
https://www.insidejakarta.com/destinations/5-kawasan-bersejarah-jakarta">
Twitter