Destinasi Akhir Pekan Memandang Bintang di Planetarium Jakarta
Destinations

7 Rekomendasi Destinasi Akhir Pekan yang ‘Anti-Mainstream’ di Jakarta

Jakarta tidak melulu soal tempat mencari nafkah dan berjuang hidup mencari sesuap nasi setiap harinya. Jakarta juga tidak melulu soal modernitas kehidupannya siang dan malam seperti kota metropolitan pada umumnya. Namun, Jakarta adalah tentang semua yang ada dan melekat pada ibukota misalnya saja nilai historis-nya, budaya orang-orangnya, kuliner-nya, alamnya dan segalanya. Bagi yang menganggap Jakarta adalah tempat yang jenuh karena hanya seputar tempat kerja, maka bukalah pikiran lebih luas lagi. Jikalau menggali lebih jauh, kota ini seyogyanya merupakan tempat yang memiliki banyak pesona. Mungkin jarang ada yang tahu bahwa Jakarta menyimpan destinasi “anti-mainstream” yang bisa dilakukan setiap akhir pekan. Apa saja destinasi dan pesona anti-mainstream tersebut? Simak baik-baik penjelasan di bawah tentang Jakarta.

1. Masakan Jepang Kualitas Tinggi di Restoran “Kikugawa”.
Suka makanan khas Jepang? Nah bila Anda adalah penggemar makanan-makanan khas dari negeri Sakura itu maka pastilah mengenal restoran-restoran Jepang yang ada di Jakarta. Tapi apakah Anda tahu bahwa restoran Jepang pertama di Indonesia berada di Jakarta?

Destinasi Akhir Pekan Restoran Ala Jepang Kikugawa
Gambar 1. Restoran Ala Jepang Kikugawa

Kikugawa! Itulah nama restoran Jepang pertama yang tepat berada di Jalan Cikini IV, Jakarta Pusat ini. Sudah dibuka selama hampir setengah abad lamanya yakni sejak tahun 1969, rasa makanannya masih seenak dan senikmat dulu. Tempatnya juga tidak berubah, masih berupa rumah Jepang tradisional dengan suasana khas Jepang yang tenang dan nyaman, seolah jauh dari hiruk-pikuk kota. Interior di dalamnya pun benar-benar mengesankan dan syahdu oleh karena alunan music instrumentalnya ditambah ornamen-ornamen bambu khas Jepang, boneka Jepang, kaligrafi huruf Jepang, hingga aksesoris-aksesoris berbau Jepang. Anda juga akan terpana tatkala melihat peralatan-peralatan sederhana lainnya seperti menu set yang tetap mempertahankan nuansa masa lalu sehingga membuat siapapun yang datang akan tersentuh dengan syahdunya kenangan.

Nama Kikugawa sendiri berasal dari nama pendirinya yang bernama Kikuchi Surutake serta Gawa yang berarti sungai. Kata “sungai” diberikan dikarenakan kecintaan Kikuchi kepada lagu Bengawan Solo ciptaan musisi lawas Indonesia, Gesang. Kikuchi yang notabene adalah seorang serdadu PD II berkebangsaan Jepang, sangat mencintai lagu-lagu Gesang pada masa itu sehingga dimasukkanlah nama “sungai” untuk Bengawan Solo ciptaan Gesang sebagai nama restorannya.

Bagi Anda yang ingin datang kemari, maka perlu melihat waktu operasional-nya yang tidak biasa, yakni mulai pukul 11.30 WIB hingga 15.00 WIB. Setelah itu buka kembali pada pukul 17.30 WIB hingga pukul 22.00 malam. Sistem jeda jam buka seperti ini memang dianut oleh restoran ini supaya tetap bisa meniru sistem jeda jam yang dianut di era 1990-an oleh semua toko dan restoran kala itu. Pastikan untuk berkunjung pada jam operasional yah agar Anda tidak capek dan merasa kecewa ketika menunggu lama. Jadi, bagi Anda yang ingin menikmati masakan khas Jepang yang benar-benar Jepang, bukan sok-sok atau ala-ala Jepang, datanglah ke restoran Kikugawa. Dijamin, Anda akan puas karena kualitas rasa dan tekstur makanannya sangat terjamin karena sudah resep turun temurun.

2. Pementasan Wayang Orang Bharata

Destinasi Akhir Pekan Pementasan Wayang Orang Bharata
Gambar 2. Pementasan Wayang Orang Bharata

Dibalik segala bentuk modernitas dan atau pengaruh globalisasi yang kian marak di negeri ini, Indonesia tidak pernah lupa untuk tetap melestarikan budayanya. Misalnya saja suku-suku di luar Jawa, seperti Minangkabau, Batak, Bali, Toraja, Asmat dan sebagainya. Sementara itu di kota-kota besar pementasan seni dan budaya seperti itu sudah jarang terlihat, kecuali beberapa.
Beberapa diantaranya sebut saja di kota sebesar Jakarta seperti suku Betawi yang tetap mempertahankan adat istiadatnya. Atau ada juga pementasan seni dan budaya dari suku Jawa seperti wayang orang yang sudah banyak dikenal selama ini. Nah, pertunjukan wayang orang seperti tersebut merupakan satu-satunya yang masih lestari sejak 1963.

Adalah Wayang Orang Bharata, di Jalan Kalilo, Senen, Jakarta Pusat yang berupaya terus tampil menghadirkan pementasan seni wayang kepada masyarakat luas. Gedung Wayang Orang Bharata tempat ditampilkannya wayang sudah ada pada tahun 1960-an. Bahkan di tahun-tahun sekitar 1963-1999, pementasan wayang orang ini bisa digelar setiap malam, lho. Sekarang, pertunjukan yang dimulai pada pukul 20.00 WIB itu hanya berlangsung setiap sabtu malam saja. Hitung-hitung malam minggu-an di tempat yang lebih berkualitas, right?

Baca Juga:(Tempat Nongkrong di Jakarta anak gaul Zaman Old)

Seperti diketahui, umumnya tema cerita pementasan wayang beragam. Tidak melulu cerita Ramayana ataupun Mahabharata, namun Wayang Orang Bharata juga terkadang mengambil tema sejarah Jawa dan cerita legenda. Harga tiket setiap pementasan terbilang cukup murah lho, mulai dari 30.000 rupiah hingga 100.000 rupiah. Sangat terjangkau bukan oleh kantong Anda. Jadi daripada nonton di bioskop yang bisa saja sekali pergi menghabiskan biaya lebih dari 100.000 rupiah, mending datang ke Gedung Wayang Orang Bharata. Selain bisa mengenal kesenian tradisi dan budaya lebih dekat, juga sebagai bentuk mendukung kelestarian budaya Indonesia agar tak tergerus zaman.
3. Rijstaffel: Kuliner Masa Kolonial

Destinasi Akhir Pekan Restoran Mewah Ala Belanda Tugu Kunstkring Paleis
Gambar 3. Restoran Mewah Ala Belanda Tugu Kunstkring Paleis

Rijstaffel berarti jamuan makan menurut orang Belanda. Tata cara makan ini awalnya diadaptasi oleh orang Belanda dari tata cara makan Keraton Jawa pada masa-masa penjajahan dahulu kala. Sekarang, Rijstaffel ternyata masih terus dilestarikan oleh sebagian kecil restoran di Jakarta. Salah satunya yang terkenal adalah restoran Tugu Kunstkring Paleis, di Menteng.

Bangunan yang pada awal didirikannya bernama Nederlandsch-Indische Kunstkring pada tahun 17 April 1914 ini sempat menjadi galeri seni Hindia Belanda pada masa itu. Satu abad kemudian bangunan ini beralih fungsi menjadi sebuah restoran mewah meski status milik gedung ini masih milik pemerintah DKI Jakarta. Bila Anda masuk ke dalam restoran mewah ini, akan langsung terlihat betapa klasik-nya desain interior dengan mengambil gaya baroque abad pertengahan dicampur dengan budaya Jawa. Oleh karena konsep yang diambil oleh restoran ini adalah fine dining, maka dining room yang dimilikinya pun luas dan dibagi dalam dua tema. Tema pertama adalah long table yang cocok dengan acara formal sedangkan yang kedua yaitu single table untuk makan malam lebih romantic. Nah, bagi Anda yang memiliki acara makan malam diantara dua keluarga besar sebelum rencana pernikahan, maka tempat ini sangat recommended lho.

Bagi Anda yang penasaran apa saja menu-nya, maka sebagai informasi menu hidangan yang disajikan sangatlah beragam. Ada menu Indonesia, dan ada juga menu masakan negara lain, misalnya Cina dan Belanda. Nama-nama menu-nya sangat unik karena ditulis dalam tiga jenis bahasa yakni bahasa Indonesia, Cina dan Belanda. Beberapa main course yang bisa dicoba adalah Kunstkring Roasted Chicken seharga 108.000 rupiah, Steamed Barramundi Curry sekitar 128.000 rupiah, Nonya Lemongrass Satay yang hanya diharga sebesar 98.000 rupiah, Es Uing-uing seharga 58.000 rupiah serta masih banyak lagi menu lainnya. Untuk jaga-jaga, siapkan saja uang di kantong sebesar 500.000 rupiah karena harga hidangannya berkisar dari 28.000 rupiah hingga 200.000 rupiah ke bawah. Kapan lagi merasakan kehidupan para bangsawan kerajaan zaman dahulu, bukan?!

4. Berburu Buku Bekas dan Piringan Hitam di Blok M Square

Destinasi Akhir Pekan Berbelanja di Blok M Square
Gambar 4. Berbelanja di Blok M Square

Blok M menghadirkan banyak pesona. Tak hanya sebagai tongkrongan yang tepat bagi semua kalangan terutama yang ingin bernostalgia, tempat ini juga bisa menjadi referensi bagi para penikmat piringan hitam.

Yap! Jikalau Anda ingin berburu lagu-lagu jadul musisi ternama dari berbagai zaman, maka datanglah ke Blok M Square di kawasan Jakarta Selatan. Anda akan menjumpai banyak piringan hitam yang mungkin Anda kira sudah tidak dijual lagi sekarang ini. Selain piringan hitam, bagi Anda pencinta buku, maka Blok M Square bisa jadi menjelma surga buku lho. Anda akan betah berada di dalamnya, mencari-cari buku-buku lama yang Anda suka. Tak terhitung lagi pengunjung yang berhasil menemukan buku yang selama ini ia cari karena di toko-toko buku biasa sudah tidak dijual.
Selain piringan hitam dan buku-buku langka, Anda juga dapat mencari berbagai CD serta kaset tape edisi lama di sana. Barang-barang lawas yang dijamin sudah tak ada di masa kini, dapat Anda temukan dengan mudah di sana. Penasaran bukan apa saja barang-barang jadul lain yang dijual di Blok M?

Baca Juga:(5 Taman Kota untuk bersantai di Jakarta)

5. Olahraga Santai di Taman Suropati
Car Free Day merupakan saat yang ditunggu-tunggu bagi sebagian besar Jakarta karena saat itulah warga Ibukota bisa menikmati sehari tanpa asap dan bising kendaraan di wilayah-wilayah tertentu yang biasanya padat. Di hari itulah warga bebas untuk berolahraga sesukanya di Jalan Thamrin – Sudirman. Tentu menyenangkan bukan menikmati Car Free Day di akhir pekan bersama rekan-rekan sebagai sebuah persiapan untuk mulai kerja lagi pada weekdays? Namun, melihat keramaian di Car Free Day saat-saat itu membuat beberapa orang menjadi ingin mencari tempat lain yang lebih lengang.

Destinasi Akhir Pekan Jalan – jalan di Taman Suropati
Gambar 5. Jalan – jalan di Taman Suropati

Nah, salah satu pilihan tepat untuk berolahraga dan jalan-jalan dengan nyaman adalah Taman Suropati. Ruang Terbuka Hijau yang terletak di Jalan Taman Suropati, Menteng ini sungguh memiliki lokasi yang begitu strategis karena merupakan titik temu diantara Jalan Imam Bonjol dan Jalan Diponegoro. Taman ini merupakan salah satu taman paling terkenal diantara 3.098 taman yang ada di Jakarta yang wajib untuk Anda kunjungi di akhir pekan. Sebagai salah satu taman yang sudah diketahui oleh banyak orang, tempat ini memiliki fasilitas yang cukup lengkap disamping memang tempatnya yang nyaman. Pepohonan rindang dengan pemandangan yang hijau, kolam-kolam bersih hingga bunga-bunga indah menjadi daya tarik tersendiri taman ini.

Belum lagi udara dan tempatnya yang bersih, sehingga sangat memungkinkan bagi Anda untuk sekali-kali “memindahkan” lokasi olahraga Anda dari Car Free Day ke tempat ini. Selain itu, adanya patung-patung berbeda tema dari para pematung ASEAN bisa memperkaya dan menambah pengetahuan serta koleksi foto-foto media sosial Anda.

6. Memotret Senja di Puncak Monas

Destinasi Akhir Pekan Menikmati Sunset dari Puncak Monas
Gambar 6. Menikmati Sunset dari Puncak Monas

Monas tak hanya menjadi landmark dan kebanggaan ibukota, namun juga selalu berhasil “memanggil” siapa saja untuk datang dan kembali ke sana. Meski tak ada yang istimewa dari bangunan tugu ini selain puncaknya yang berwarna emas atau nilai historisnya atau juga selain patung-patung di sekelilingnya seperti patung Diponegoro, Chairil Anwar, M. Husni Thamrin dan R.A.Kartini, namun tetap saja Monas memiliki pesonanya sendiri.

Selama ini, hampir semua warga datang ke Monas dan melihatnya pada pagi dan siang hari. Namun pernahkah Anda berpikir untuk mencoba menikmati Monas pada sore hingga malam hari? Nah, demi bisa melihat sekaligus merasakan pesona Monas lebih dekat, cobalah datang pada sore dan malam hari. Masuklah ke pintu Monas dan susuri lorong bawah tanah yang berujung pada penjualan tiket. Harga tiket yang dibayar hanya berkisar 15.000 rupiah hingga 20.000 rupiah saja. Cukup terjangkau, bukan?

Selanjutnya naiklah ke daerah pelataran Puncak Monas. Bila pada sore hari Anda dapat menyaksikan senja indah yang tenggelam di antara gedung-gedung pencakar langit megah, maka pada malam hari Anda dapat melihat bulan menggelayut sempurna di langit Jakarta. Bawalah kamera yang Anda punya, baik itu digital maupun kamera ponsel biasa dan abadikanlah momen-momennya. Tidak perlu capek-capek berdiri sampai menunggu senja tiba karena di pelataran terbuka ini Anda bisa duduk dengan bebasnya sambil memandang langit terbuka. Beberapa tips bila Anda akan datang pada malam hari ke Monas adalah sebagai berikut.
• Jangan lupa membawa kamera
• Siapkan jaket karena puncak dan pelataran Monas yang terbuka memungkinkan angin berhembus kencang, apalagi bila datang saat malam hari
• Datang ketika cuaca sedang cerah, lho, bukannya saat mendung atau hujan
• Jangan lupa memakai alas kaki yang pas dan nyaman di kaki agar Anda tidak mudah lelah saat berjalan kaki di dalam Monas. Seperti diketahui di dalam Monas, Anda harus berjalan kaki ke loket, begitu juga dengan banyaknya anak tangga sebelum sampai ke elevator nantinya
• Ingat baik-baik jam operasional Monas yang berakhir pada pukul 21.00 WIB dimana antrean terakhir yang bisa Anda kejar adalah pada pukul 20.00 WIB.

7. Belajar tentang Angkasa di Planetarium Jakarta
Mungkin Anda mengenal Kepulauan Seribu, Pantai hingga wahana waterbom bahkan museum-museum di Jakarta sebagai alternatif liburan saat akhir pekan.

Destinasi Akhir Pekan Memandang Bintang di Planetarium Jakarta
Gambar 7. Destinasi Akhir Pekan Memandang Bintang di Planetarium Jakarta

Namun pernahkah Anda terpikir untuk datang ke Planetarium? Yap! Tempat ini merupakan sebuah tempat wisata bermuatan edukasi penting bagi semua kalangan, baik itu anak-anak, remaja bahkan orang dewasa. Di Planetarium Jakarta, Anda dapat mengetahui perihal benda-benda langit di luar sana bahkan melihat secara langsung melalui teleskop. Anda akan diberikan pengenalan serta pengetahuan langsung mengenai bintang dan planet-planet serta alam semesta. Bukankah ini cara yang tepat sekaligus berkualitas untuk menghabiskan libur pekan Anda?

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Follow by Email
Facebook
Google+
https://www.insidejakarta.com/destinations/rekomendasi-destinasi-akhir-pekan">
Twitter