semanggi jakarta
Destinations

Melihat Simpang Susun Semanggi dari Kacamata Seorang Urban Planning

Bagi siapa saja yang tinggal di Ibukota, tentu saja tahu mengenai Jembatan Simpan Susun Semanggi. Ya! Sejak direvitalisasi kembali oleh pemerintah, Jembatan ini seolah menjadi ikon baru Jakarta, selain Monas tentunya.

Bangunan ini termasuk dalam kategori Jalan Layang Non Tol (JLNT) terpanjang di Nusantara, dimana jalannya sendiri terbentang di atas jalan tol dalam kota Jakarta secara hiperbolik. Tak hanya itu, desainnya yang melengkung serta unik oleh karena mirip dengan daun semanggi membuat bangunan yang sudah didirikan sejak tahun 1961 ini semakin menambah daya tarik siapa saja yang melihatnya.

Selain bentuknya, Simpang Susun Semanggi juga dinilai monumental oleh karena pencahayaan dan teknik konstruksi-nya. Jembatan yang didesain oleh ahli jembatan dari ITB, Jodi Firmansyah ini juga dilengkapi dengan lampu warna-warni sepanjang bentangnya. Warna lampu tersebut disetel menggunakan software khusus sehingga dapat memberikan efek cantik berupa gelombang air di sepanjang bentangnya.

Sementara itu, dua flyover yang melingkar ini juga tersusun dari 333 buah segmental box girder block yang sudah dicetak sebelumnya. Semua girder block ini tinggal disusun saja satu sama lain sepanjang Simpang Susun Semanggi. Demi memunculkan kearifan lokal, maka pagar flyover-nya juga diberikan motif daun semanggi di sisi luar serta gigi baling di bagian dalam seperti rumah adat betawi.

semanggi jakarta
Jembatan Layang Semanggi dengan 2 Ruas Jalan

Jembatan layang Semanggi ini sendiri terdiri dari dua buah ruas jalan. Ruas pertama diperuntukkan bagi kendaraan yang berasal dari Cawang menuju Bundaran Hotel Indonesia. Sedangkan untuk ruas lainnya yakni diperuntukkan bagi kendaraan-kendaraan yang berasal dari Slipi ke Blok M.

Dengan direvitalisasi-nya bangunan ini maka tidak akan ada lagi pertemuan pengendara yang lebih padat daripada sebelum-sebelumnya. Hal itu dikarenakan oleh karena seringnya terjadi dua atau lebih konflik kemacetan yang terjadi di lingkar Semanggi, oleh karena arus lalu lintas yang saling berpotongan.

Pertama adalah di pertigaan Jalan Gatot Subroto dan Jalan Bendungan Walahar. Kemacetan di titik ini terjadi oleh karena perpotongan arus kendaraan dari Jalan Bendungan Walahar ke Gatot Subroto yang menyilang dengan arus kendaraan dari Jalan Gatot Subroto ke Jenderal Sudirman.

Sementara itu, titik konflik kedua adalah di depan Plaza Semanggi, dimana arus kendaraan yang datang dari Jalan Gatot Subroto ke Plaza Semanggi dengan yang dari Jalan Jenderal Sudirman ke Gatot Subroto.

Dari segi urban planning, strategi perencanaan fly over ini memang terlihat baik dan memiliki future yang cerah dalam mengatasi kemacetan, khususnya untuk kedua ruas jalan. Namun ternyata hanya bersifat sementara, karena walaupun kemacetan berkurang dengan jalur jalan yang semakin memanjang dan melingkar, tetapi itu hanya berlaku untuk hambatan di persimpangan jalur Semanggi saja. Sehingga saat keluar dari fly over, kemacetan akan kembali terasa.

Baca Juga: ( 7 Tempat Jogging di Jakarta )

Dan parahnya kemacetan tersebut akan terjadi lagi bahkan bisa bertambah, terutama saat pengguna jalan dari Jalan Gatot Subroto bertemu dengan pengguna dari Jalan Jenderal Sudirman, seperti pada saat jam-jam pergi dan pulang kantor saat di pagi dan sore hari.

Dan dengan pembangunan fly over ini, banyak dari pengendara akan merasa nyaman dengan kapasitas jalan yang bertambah dan menggunakan kembali kendaraan pribadi masing – masing, sehingga lambat laun akan semakin memperparah kemacetan.

Meskipun baru asumsi, tidak ada salahnya walau pembangunan ini sudah terjadi, pemerintah terus mengimbau warganya untuk lebih menggunakan transportasi publik.

Transjakarta adalah solusi kemacetan
Trans Jakarta menjadi Harapan untuk Solusi Kemacetan.

Karena solusi utama yang dianggap sebagai pemecah masalah kemacetan jalan hingga saat ini masih dengan meningkatkan penggunaan transportasi publik, seperti yang sudah diterapkan oleh negara – negara maju saat ini, contohnya negara Singapura dan Inggris.

Meskipun sulit dan memerlukan waktu yang lama, strategi meningkatkan kapasitas dan kualitas transportasi publik bagi warga Jakarta sekarang sudah mulai terlihat. Hanya saja alasan yang menjadi penghalang berkembangnya strategi ini adalah kinerja transportasi yang belum memadai dan mampu mengimbangi demand dari masyarakat layaknya kenyamanan menggunakan kendaraan pribadi, seperti waktu transit yang molor, kemacetan, rawan kriminalitas, dan tentunya cuaca yang panas.

Jika peningkatan kualitas transportasi publik telah terlaksana, langkah selanjutnya yaitu dengan memaksa warga melepas kendaraan pribadinya untuk beralih ke publik.

Seperti dengan penerapan tarif yang tinggi untuk pengguna jalan tol atau ERP, atau memberikan beberapa pembatasan ketentuan di jalan raya, sehingga mau tidak mau warga harus menggunakan transportasi publik. Walau terdengar ekstrim dan pastinya banyak kritikan, cara ini terbukti ampuh dalam mengendalikan arus kendaraan.

Namun strategi perencanaan ini haruslah dilakukan berurutan dan bertahap, sehingga tidak menimbulkan konflik. Pembangunan fly over bukanlah strategi yang buruk karena secara langsung pembangunan ini bertujuan untuk menghemat pemakaian kawasan agar tidak sepenuhnya lahan diubah menjadi jalan raya.

Dengan tetap mempertahankan hijaunya ruang terbuka, fly over dapat dibangun diatasnya, seperti kawasan jembatan layang Simpang Susun Semanggi ini. Tetapi jangan dianggap dengan keunggulan tersebut, pemerintah dapat membangun fly over dimana saja, karena tentunya akan menguras anggaran pembangunan, bahkan lebih tinggi dibanding dengan strategi menambah kapasitas transportasi publik.

Kesimpulannya, adanya Simpang Susun Semanggi ini bisa menjadi awal dari solusi permasalahan kemacetan yang telah menjadi sarapan empuk warga Jakarta setiap harinya. Dan perlu dengan segera diimbangi oleh peningkatan pada strategi kemacetan lainnya yang lebih bersifat jangka panjang.

Baca Juga: ( 7 Tips Sederhana Mencari Kos – Kosan di Jakarta )

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *